Sabtu, 10 September 2016

Kehidupan yang Tuhan Hembuskan

Terkadang, aku berpikir untuk berhenti berpikir. Entah, tak mengerti untuk apa aku berdiri. Di bumi. Selama, lama yang aku tak tahu. Terkadang, sudut pandangku membawaku untuk pergi. Berhenti! Dari kehidupan yang sedang aku jalani. Muak! Muak dengan semua kebohongan, kepura-puraan, segala pencitraan dan pembenaran. Segala bentuk penipuan, bahkan terhadap diri sendiri. Ingin aku pergi dari semua kebiasaan dan watak makhluk sepertiku ini. Manusia. Manusia yang dekat sekali dengan kesalahan, namun seakan suci tak pernah berbuat salah. Sempat aku memohon, untuk lekas kembali. Pulang, ke tempat dimana semua makhluk kembali pulang. Namun, Tuhan masih juga belum mengabulkan.
Sering aku bertanya. Apa yang ingin Tuhan sampaikan sehingga aku harus menjalani kehidupan bersama jutaan makhluk di bumi sampai batas waktu yang tak kuketahui ini?? Padahal, aku merasa semakin hari, aku malah semakin menumpuk dosa dan kesalahan. Dan, bahkan aku hampir sama dengan yang lainnya. Mengapa Tuhan tak menjemputku kemarin atau sekarang saja?? Sebelum timbangan dosaku semakin memberat. Sebelum kebiasaan dan watakku sama dengan kebanyakan manusia lainnya?? Apa yang sebenarnya hendak ingin Tuhan tunjukkan?? Keindahan apa?? Apa keindahan tersebut tidak bisa aku dapatkan di tempat nanti aku pulang??
Aku tak habis berpikir. Sampaaiiii... Sampai aku bertemu dengan kenikmatan demi kenikmatan yang Tuhan coba tunjukkan. Melalui prestasi, ambisi, pencapaian, dan ketulusan orang-orang penuh kasih yang hadir di sekitar kehidupanku. Berkat kehidupan yang Tuhan masih hembuskan, aku dapat mengerti bagaimana rasanya berjuang. Aku dapat merasakan betapa sangat luar biasa kebahagiaan yang dirasakan, saat berhasil mencapai tujuan. Aku dapat memahami bahwa orang-orang tulus yang tidak melulu memikirkan ego dan pembenaran itu ternyata memang masih ada adanya. Bahkan, mereka hadir dekat dengan kehidupanku. Mereka orang-orang terdekatku. Berkat kehidupan yang Tuhan berikan, aku bisa tahu bagaimana rasanya dikasi dan mengasihi. Bagaimana perbedaan memaafkan dan membenci. Bagaimana nikmatnya bersabar. Bagaimana nikmatnya memilih berdamai. Dan mungkin, bahkan pasti masih banyak hal lain lagi.
Untuk setiap nafas yang masih Engkau hembuskan. Untuk setiap kenikmatan yang tak pernah berhenti Engkau taburkan. Untuk semua keindahan yang Engkau berikan. Untukku. Sepanjang dua puluh empat tahun ini. Terima kasih banyak. Segala puji bagi-Mu, ya Allah. Tuhanku yang Maha Pemberi Keindahan. Berkahi selalu langkahku. Agar tetap selalu bisa terus menjaga amanah kehidupan yang Engkau berikan.
Terima kasih banyak untuk keluarga, sahabat, guru, tetangga, rekan kerja, murid-murid yang juga teman-temanku, semua orang telah hadir di kehidupanku. Terima kasih untuk semua energi positif , pengalaman, motivasi, semuanya. Berkat kalian, aku banyak belajar. Tanpa kalian, tidak pernah ada diriku yang sekarang.
Love, 29/05/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar