Terkadang, aku berpikir untuk berhenti
berpikir. Entah, tak mengerti untuk apa aku berdiri. Di bumi. Selama, lama yang
aku tak tahu. Terkadang, sudut pandangku membawaku untuk pergi. Berhenti! Dari
kehidupan yang sedang aku jalani. Muak! Muak dengan semua kebohongan,
kepura-puraan, segala pencitraan dan pembenaran. Segala bentuk penipuan, bahkan
terhadap diri sendiri. Ingin aku pergi dari semua kebiasaan dan watak makhluk
sepertiku ini. Manusia. Manusia yang dekat sekali dengan kesalahan, namun
seakan suci tak pernah berbuat salah. Sempat aku memohon, untuk lekas kembali.
Pulang, ke tempat dimana semua makhluk kembali pulang. Namun, Tuhan masih juga
belum mengabulkan.
Sering aku bertanya. Apa yang ingin Tuhan
sampaikan sehingga aku harus menjalani kehidupan bersama jutaan makhluk di bumi
sampai batas waktu yang tak kuketahui ini?? Padahal, aku merasa semakin hari,
aku malah semakin menumpuk dosa dan kesalahan. Dan, bahkan aku hampir sama
dengan yang lainnya. Mengapa Tuhan tak menjemputku kemarin atau sekarang saja??
Sebelum timbangan dosaku semakin memberat. Sebelum kebiasaan dan watakku sama
dengan kebanyakan manusia lainnya?? Apa yang sebenarnya hendak ingin Tuhan
tunjukkan?? Keindahan apa?? Apa keindahan tersebut tidak bisa aku dapatkan di
tempat nanti aku pulang??
Aku tak habis berpikir. Sampaaiiii...
Sampai aku bertemu dengan kenikmatan demi kenikmatan yang Tuhan coba tunjukkan.
Melalui prestasi, ambisi, pencapaian, dan ketulusan orang-orang penuh kasih yang
hadir di sekitar kehidupanku. Berkat kehidupan yang Tuhan masih hembuskan, aku
dapat mengerti bagaimana rasanya berjuang. Aku dapat merasakan betapa sangat
luar biasa kebahagiaan yang dirasakan, saat berhasil mencapai tujuan. Aku dapat
memahami bahwa orang-orang tulus yang tidak melulu memikirkan ego dan
pembenaran itu ternyata memang masih ada adanya. Bahkan, mereka hadir dekat
dengan kehidupanku. Mereka orang-orang terdekatku. Berkat kehidupan yang Tuhan
berikan, aku bisa tahu bagaimana rasanya dikasi dan mengasihi. Bagaimana
perbedaan memaafkan dan membenci. Bagaimana nikmatnya bersabar. Bagaimana
nikmatnya memilih berdamai. Dan mungkin, bahkan pasti masih banyak hal lain
lagi.
Untuk setiap nafas yang masih Engkau
hembuskan. Untuk setiap kenikmatan yang tak pernah berhenti Engkau taburkan.
Untuk semua keindahan yang Engkau berikan. Untukku. Sepanjang dua puluh empat
tahun ini. Terima kasih banyak. Segala puji bagi-Mu, ya Allah. Tuhanku yang
Maha Pemberi Keindahan. Berkahi selalu langkahku. Agar tetap selalu bisa terus
menjaga amanah kehidupan yang Engkau berikan.
Terima kasih banyak untuk keluarga,
sahabat, guru, tetangga, rekan kerja, murid-murid yang juga teman-temanku,
semua orang telah hadir di kehidupanku. Terima kasih untuk semua energi positif
, pengalaman, motivasi, semuanya. Berkat kalian, aku banyak belajar. Tanpa
kalian, tidak pernah ada diriku yang sekarang.
Love, 29/05/2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar