Sabtu, 10 September 2016

UNTUKMU, RATU DUNIAKU

Tiga puluh tahun yang lalu...
Mungkin, engkau merasa bahagia
Telah melahirkan seorang putri cantik dari rahimmu
Kau pun jadi sering berbisik dan memanggil dirimu, ibu...

Satu tahun menjelang...
Kau kembali melahirkan sosok bayi yang cantik
Meski mungkin kau sedikit kecewa
Karna bayi itu bukanlah sosok yang bisa engkau jadikan seorang pangeran di kerajaan kecilmu

Aku mengerti, engkau pasti bahagia
Merawat dua putri cantik dengan tanganmu sendiri
Meski aku tak menyangkal, engkau pasti sedikit lelah
Lelah dengan semua rutinitas dan beban tugas yang harus selalu engkau lakukan

Beberapa tahun menjelang...
Aku sedikit tidak mengerti
Mengapa kau kembali melahirkan seorang putri kecil dari rahimmu untuk ketiga kalinya
Padahal aku yakin, bahwa engkau sudah sangat lelah
Dan sering menderita karnanya

Merawat tiga bidadari kecil yang sering memberontak...
Aku yakin, bukanlah sesuatu yang bisa engkau atasi dengan mudah
Namun, aku tak mengerti, sama sekali tak mengerti
Aku masih bisa melihat senyuman dari bibir indahmu
Bahkan, gelak tawa

Engkau mungkin pernah merasa sangat frustasi
Dengan segala tingkah ajaib kami, bidadari bidadari kecilmu
Bahkan, mungkin engkau juga pernah merasa ingin menyerah
Dengan kesalahan kesalahan kecil kami, yang membuatmu sangat kecewa

Namun, berkatmu...
Berkat kegigihan dan ketulusan hatimu...
Kini, bidadari-bidadari kecilmu itu tumbuh menjadi sosok-sosok yang kuat dan cerdas
Meski, mungkin bidadari bidadari itu masih saja sering membuatmu kesulitan..

Terimakasih, ibu..
Telah membuat kami lahir, tumbuh, dan hidup..
Terimakasih telah menciptakan sejarah yang penuh kehangatan di kehidupan kami..
Terimakasih telah menjadikan kami bidadari-bidadari cantik, tangguh, penuh harga diri..
Terimakasih untuk segalanya, ibu..


Kala sendiri. Sepi seperti ini. Kembali membuatku memikirkan tentang pekerjaan ku yang satu ini. Beban ini.
Ya, aku tak tahu banyak tentang passion. Tak tahu banyak tentang potensi diri. Tak tahu banyak tentang rencana masa depan. Yang aku tahu, hanya satu. Berada dalam pekerjaan yang tidak bertentangan dengan hal-hal yang ditentang-Nya. Berada dalam pekerjaan yang benar-benar halal, benar-benar memberikan keberkahan. Yang bisa aku pertanggung-jawabkan, yang bisa membuat ku amanah di dalamnya.
Ya, amanah! Kata yang selalu membuatku merenung dan mempertanyakannya di dalam diriku sendiri. "Sudahkah aku amanah??" Terlebih, pekerjaanku yang satu ini bukanlah pekerjaan yang berhadapan dengan setumpukan dokumen-dokumen atau setumpukan laporan-laporan. Tapi, lebih dari itu! Berhadapan dengan anak-anak. Dengan manusia. Dengan generasi, cikal bakal penerus bangsa. Dengan, masa depan seseorang.
Amanah?? Oh, tentu saja itu menjadi sesuatu yang semakin berat bagiku.
Sebenarnya... Aku ingin sekali mencintai pekerjaan ini. Aku ingin larut didalamnya. Mencurahkan segala yang aku miliki. Memberikan segalanya. Segala yang bisa aku lakukan. Namun... Kenyataannya?? Aku tidaklah sehebat itu. Aku tidak sesempurna itu. Untuk bisa berada didalam pekerjaan ini.
Banyak hal yang tidak aku miliki, yang seharusnya aku miliki untuk menunjang pekerjaan ini. Banyak hal yang tidak bisa aku lakukan, yang justru seharusnya bisa aku lakukan agar bisa "sempurna" mendidik dan menjaga mereka. Memfasilitasi mereka. Melahirkan bayi bayi masa depan yang handal dan berakhlak baik. Terlalu banyak hal, yang tidak aku kuasai. Yang sungguh aku sesalkan sampai saat ini.
Belajar?? Apalah artinya belajar, jika proses didalamnya membuatku harus menodai masa depan seseorang. Yang mungkin bisa jadi, bila bukan berada di dalam tanggung jawabku dia akan lebih luar biasa dan lebih baik.
Sempat ku berpikir, bahwa ini bukan semata tanggung jawab besarku. Namun, tetap saja pertanyaan, "Sudahkah aku amanah? Sebenar-benarnya amanah dalam pekerjaan ini?" Selalu mengusik pikiranku.
Terlebih, setelah nilai nilai itu muncul.
Di satu sisi, aku senang. Karna aku berhasil bersikap jujur. Mengajarkan kejujuran. Mengajarkan kerja keras. Tidak menyepelekan sesuatu.. Setelah perdebatan yang cukup membuat kami bimbang di hari itu. Tapi di lain sisi, aku merasa bahwa nilai kejujuran ternyata sudah tidak begitu bisa dibanggakan lagi. Bergeser. Dan justru beralih menjadi sebuah masalah dan dipermasalahkan. Orang-orang sekarang lebih memilih aman daripada jujur. Padahal hampir semua orang membutuhkan orang orang jujur yang bisa mereka percayai. Lalu?? Salahkah jadinya jika di dunia ini tidak ada lagi orang-orang jujur dan bisa dipercayai?? Jika diri sendiri lebih memilih aman daripada jujur?!!
Apakah aku juga harus berhenti jujur?? Bergeser dan beralih seperti yang lainnya?? Lalu, apa gunanya aku menolak pekerjaan lain untuk pekerjaan ini?? Jika pada akhirnya aku berada di jalur yang ditentang-Nya dan tidak di kehendaki-Nya?? Apa pula jadinya bayi-bayi masa depan itu jika ditanamkan lebih memilih aman daripada jujur??
Sungguh, aku tidak tahu lagi apa aku harus tetap berada di dalam pekerjaan ini atau seperti biasanya. Berhenti. Mencari dan memilih yang sejalan dan menentang hal-hal yang ditentang-Nya. Dan, lalu apakah aku benar-benar sudah amanah selama ini?? Di tengah-tengah kekurangan dan ketidakmampuan ku??
Aku rasa tidak. Terlalu banyak hal, yang tidak bisa aku lakukan. Terlalu banyak hal, yang membuat ku merasa bersalah dan tetap merasa terbebani.  Terlalu banyak hal yang membuat ku berpikir, "Aku bukanlah guru yang baik. Bukan guru yang sebenar-benarnya guru seperti yang tergambar dalam tokoh Bu Muslimah di film Laskar Pelangi." Meski terkadang, aku menikmati pekerjaanku ini.
Aku sering merasa lelah. Tapi aku lebih sering merasa bersalah.

Entahlah. Jika memang pekerjaan ini baik untukku. Semoga Allah selalu membantuku dan lingkungan pekerjaanku untuk tetap bisa amanah dan melahirkan bayi-bayi masa depan yang handal dan berakhlak baik. Jika tidak, semoga Allah membantuku untuk menemukan pekerjaan yang benar-benar baik untukku dan bisa membuatku lebih amanah dan jujur di dalamnya.

Kehidupan yang Tuhan Hembuskan

Terkadang, aku berpikir untuk berhenti berpikir. Entah, tak mengerti untuk apa aku berdiri. Di bumi. Selama, lama yang aku tak tahu. Terkadang, sudut pandangku membawaku untuk pergi. Berhenti! Dari kehidupan yang sedang aku jalani. Muak! Muak dengan semua kebohongan, kepura-puraan, segala pencitraan dan pembenaran. Segala bentuk penipuan, bahkan terhadap diri sendiri. Ingin aku pergi dari semua kebiasaan dan watak makhluk sepertiku ini. Manusia. Manusia yang dekat sekali dengan kesalahan, namun seakan suci tak pernah berbuat salah. Sempat aku memohon, untuk lekas kembali. Pulang, ke tempat dimana semua makhluk kembali pulang. Namun, Tuhan masih juga belum mengabulkan.
Sering aku bertanya. Apa yang ingin Tuhan sampaikan sehingga aku harus menjalani kehidupan bersama jutaan makhluk di bumi sampai batas waktu yang tak kuketahui ini?? Padahal, aku merasa semakin hari, aku malah semakin menumpuk dosa dan kesalahan. Dan, bahkan aku hampir sama dengan yang lainnya. Mengapa Tuhan tak menjemputku kemarin atau sekarang saja?? Sebelum timbangan dosaku semakin memberat. Sebelum kebiasaan dan watakku sama dengan kebanyakan manusia lainnya?? Apa yang sebenarnya hendak ingin Tuhan tunjukkan?? Keindahan apa?? Apa keindahan tersebut tidak bisa aku dapatkan di tempat nanti aku pulang??
Aku tak habis berpikir. Sampaaiiii... Sampai aku bertemu dengan kenikmatan demi kenikmatan yang Tuhan coba tunjukkan. Melalui prestasi, ambisi, pencapaian, dan ketulusan orang-orang penuh kasih yang hadir di sekitar kehidupanku. Berkat kehidupan yang Tuhan masih hembuskan, aku dapat mengerti bagaimana rasanya berjuang. Aku dapat merasakan betapa sangat luar biasa kebahagiaan yang dirasakan, saat berhasil mencapai tujuan. Aku dapat memahami bahwa orang-orang tulus yang tidak melulu memikirkan ego dan pembenaran itu ternyata memang masih ada adanya. Bahkan, mereka hadir dekat dengan kehidupanku. Mereka orang-orang terdekatku. Berkat kehidupan yang Tuhan berikan, aku bisa tahu bagaimana rasanya dikasi dan mengasihi. Bagaimana perbedaan memaafkan dan membenci. Bagaimana nikmatnya bersabar. Bagaimana nikmatnya memilih berdamai. Dan mungkin, bahkan pasti masih banyak hal lain lagi.
Untuk setiap nafas yang masih Engkau hembuskan. Untuk setiap kenikmatan yang tak pernah berhenti Engkau taburkan. Untuk semua keindahan yang Engkau berikan. Untukku. Sepanjang dua puluh empat tahun ini. Terima kasih banyak. Segala puji bagi-Mu, ya Allah. Tuhanku yang Maha Pemberi Keindahan. Berkahi selalu langkahku. Agar tetap selalu bisa terus menjaga amanah kehidupan yang Engkau berikan.
Terima kasih banyak untuk keluarga, sahabat, guru, tetangga, rekan kerja, murid-murid yang juga teman-temanku, semua orang telah hadir di kehidupanku. Terima kasih untuk semua energi positif , pengalaman, motivasi, semuanya. Berkat kalian, aku banyak belajar. Tanpa kalian, tidak pernah ada diriku yang sekarang.
Love, 29/05/2016

Ini Belum Selesai

Di sini, aku sendiri. Bukan karna benar-benar sendiri. Tapi, lebih ke 'merasa' sendiri. Bukan karna tak ada orang yang mengerti. Tapi, entah. Aku merasa sendiri. Terkadang, aku lelah. Terkadang, aku ingin marah. Terkadang, ah entahlah.
Hidup memang sulit untuk dijalani. Ada resiko yang harus dipilih. Ada kesulitan yang terpaksa harus dilalui.
Banyak perbedaan di dalam kehidupan. Sudut pandang, kebiasaan, kepercayaan. Ah, semua itu sungguh melelahkan. Karna perbedaan-perbedaan itu, aku seringkali menyaksikan pertengkaran. Dan bahkan, aku sendiri yang bertengkar. Meski seringkali aku menahannya. Sebisaku. Walau pikiranku terus mencecarku dengan kata-kata yang terus memancing egoku untuk memberontak. Untuk marah. Untuk membenci. Untuk menyakiti. Untuk melawan! Untuk, tak lagi menahan diri.
Namun, beruntung. Pikiran naifku selalu bisa menghalau segala bentuk pemberontakan di dalam pikiranku sendiri. Kenaifanku menang! Meski, masih menyisakan secuil rasa sakit yang mengganjal di hati. Tapi, kenaifanku kembali menasehati. Kembali mengambil alih pikiranku. Untuk memaafkan. Untuk berdamai. Berdamai, dengan diriku sendiri. Berdamai, dengan segala ego yang mencecar pikiranku. Berdamai, dengan segala bentuk rasa sakit, kecewa, kesedihan. Semua yang ditimbulkan karna perbedaan sudut pandang.
Ya, sudut pandang! Yang seringkali menyemai pertengkaran. Yang membuat penyekat antara satu dengan yang lainnya. Yang membuat kami merasa ‘berbeda’. Yang membuat kami menjauhi dan membatasi diri. Bahkan, memusuhi orang lain dan merasa paling benar.
Jika ada yang harus disalahkan dalam segala bentuk permusuhan dan pertengkaran di dunia ini, itu bukanlah suku, ras, ataupun agama. Tapi, sudut pandang! Ya, sudut pandang! Sudut pandang yang berbeda. Yang seringkali menghasut dan memaksa diri kita mempercayai bahwa diri kita adalah orang yang paling benar. Yang membuat orang lain seakan yang salah. Ya, sudut pandang! Dialah penyebabnya. Sudut pandang yang menyesatkan.
Tapi, bukankah sudut pandang itu kita sendiri yang menciptakannya?? Menciptakannya didalam pikiran kita sendiri?? Lalu, mengapa pula dia yang menjadi disalahkan?? Bukankah sudut pandang itu diciptakan oleh ulah diri kita sendiri??
Ya, tentu saja. Sehingga, pada hakikatnya bisa jadi diri kitalah yang salah. Yang telah menciptakan sudut pandang yang keliru di dalam pikiran kita sendiri. Yang mudah terprovokasi oleh segala bentuk keegoisan dan ke-sok tahu-an di dalam pikiran kita. Yang tidak menyaring segala informasi dengan baik. Yang tidak berusaha mencari tahu kebenaran dari segala hal yang kita lihat, kita dengar, kita baca, dan kita rasakan. Yang tidak berusaha berpikir positif terhadap apapun yang terjadi. Yang tidak berusaha berpikir positif terhadap sikap ataupun ocehan buruk seseorang. Yang tidak mencoba untuk meluruskan semuanya. Malah menanamkan sudut pandang-sudut pandang tersendiri didalam pikiran kita. Yang bisa jadi, justru menyesatkan pikiran baik kita.
Tersenyum. Ya, tersenyum. Tersenyum kepada siapa pun yang menaruh rasa sakit di hati kita. Maafkan! Dan berdamai! Karna itu adalah satu-satunya obat atas segala bentuk kesalahpahaman perbedaan sudut pandang di dalam pikiran kita. Satu-satunya cara yang mendamaikan jiwa kita. Yang membersihkan diri kita dari segala penyakit yang mengotori hati dan pikiran kita.
Ah, entahlah. Aku seringkali berpikir seperti itu. Meski, terkadang sulit untuk dilakukan. Tapi, setidaknya itulah yang seringkali aku rasakan ketika seseorang tidak satu pemahaman denganku. Berdamai dan tersenyum. Ya, meski aku tidak langsung melakukannya. Karna keegoisan yang memprovokasi dan tak berhenti menggangguku.
Hidup itu memang tidak mudah. Sama tak mudahnya dengan memeluk gunung. Seringkali aku merasa sendiri. Seringkali aku merasa tidak ada satu orang pun yang bisa aku ajak bicara. Seringkali berpikiran negatif. Seringkali berprasangka negatif.

Ah, entahlah. Aku merasa terkadang aku terbelenggu dengan pikiranku sendiri. Lalu, larut di dalamnya. Tanpa ku tahu. Itu benar ataupun salah.