Di sini, aku sendiri. Bukan karna
benar-benar sendiri. Tapi, lebih ke 'merasa' sendiri. Bukan karna tak ada orang
yang mengerti. Tapi, entah. Aku merasa sendiri. Terkadang, aku lelah.
Terkadang, aku ingin marah. Terkadang, ah entahlah.
Hidup memang sulit untuk dijalani. Ada
resiko yang harus dipilih. Ada kesulitan yang terpaksa harus dilalui.
Banyak perbedaan di dalam kehidupan.
Sudut pandang, kebiasaan, kepercayaan. Ah, semua itu sungguh melelahkan. Karna
perbedaan-perbedaan itu, aku seringkali menyaksikan pertengkaran. Dan bahkan,
aku sendiri yang bertengkar. Meski seringkali aku menahannya. Sebisaku. Walau
pikiranku terus mencecarku dengan kata-kata yang terus memancing egoku untuk
memberontak. Untuk marah. Untuk membenci. Untuk menyakiti. Untuk melawan! Untuk,
tak lagi menahan diri.
Namun, beruntung. Pikiran naifku selalu
bisa menghalau segala bentuk pemberontakan di dalam pikiranku sendiri.
Kenaifanku menang! Meski, masih menyisakan secuil rasa sakit yang mengganjal di
hati. Tapi, kenaifanku kembali menasehati. Kembali mengambil alih pikiranku.
Untuk memaafkan. Untuk berdamai. Berdamai, dengan diriku sendiri. Berdamai,
dengan segala ego yang mencecar pikiranku. Berdamai, dengan segala bentuk rasa
sakit, kecewa, kesedihan. Semua yang ditimbulkan karna perbedaan sudut pandang.
Ya, sudut pandang! Yang seringkali
menyemai pertengkaran. Yang membuat penyekat antara satu dengan yang lainnya.
Yang membuat kami merasa ‘berbeda’. Yang membuat kami menjauhi dan membatasi
diri. Bahkan, memusuhi orang lain dan merasa paling benar.
Jika ada yang harus disalahkan dalam
segala bentuk permusuhan dan pertengkaran di dunia ini, itu bukanlah suku, ras,
ataupun agama. Tapi, sudut pandang! Ya, sudut pandang! Sudut pandang yang
berbeda. Yang seringkali menghasut dan memaksa diri kita mempercayai bahwa diri
kita adalah orang yang paling benar. Yang membuat orang lain seakan yang salah.
Ya, sudut pandang! Dialah penyebabnya. Sudut pandang yang menyesatkan.
Tapi, bukankah sudut pandang itu kita
sendiri yang menciptakannya?? Menciptakannya didalam pikiran kita sendiri??
Lalu, mengapa pula dia yang menjadi disalahkan?? Bukankah sudut pandang itu
diciptakan oleh ulah diri kita sendiri??
Ya, tentu saja. Sehingga, pada
hakikatnya bisa jadi diri kitalah yang salah. Yang telah menciptakan sudut
pandang yang keliru di dalam pikiran kita sendiri. Yang mudah terprovokasi oleh
segala bentuk keegoisan dan ke-sok
tahu-an di dalam pikiran
kita. Yang tidak menyaring segala informasi dengan baik. Yang tidak berusaha
mencari tahu kebenaran dari segala hal yang kita lihat, kita dengar, kita baca,
dan kita rasakan. Yang tidak berusaha berpikir positif terhadap apapun yang
terjadi. Yang tidak berusaha berpikir positif terhadap sikap ataupun ocehan
buruk seseorang. Yang tidak mencoba untuk meluruskan semuanya. Malah menanamkan
sudut pandang-sudut pandang tersendiri didalam pikiran kita. Yang bisa jadi,
justru menyesatkan pikiran baik kita.
Tersenyum. Ya, tersenyum. Tersenyum
kepada siapa pun yang menaruh rasa sakit di hati kita. Maafkan! Dan berdamai!
Karna itu adalah satu-satunya obat atas segala bentuk kesalahpahaman perbedaan
sudut pandang di dalam pikiran kita. Satu-satunya cara yang mendamaikan jiwa
kita. Yang membersihkan diri kita dari segala penyakit yang mengotori hati dan
pikiran kita.
Ah, entahlah. Aku seringkali berpikir
seperti itu. Meski, terkadang sulit untuk dilakukan. Tapi, setidaknya itulah
yang seringkali aku rasakan ketika seseorang tidak satu pemahaman denganku.
Berdamai dan tersenyum. Ya, meski aku tidak langsung melakukannya. Karna
keegoisan yang memprovokasi dan tak berhenti menggangguku.
Hidup itu memang tidak mudah. Sama tak
mudahnya dengan memeluk gunung. Seringkali aku merasa sendiri. Seringkali aku
merasa tidak ada satu orang pun yang bisa aku ajak bicara. Seringkali
berpikiran negatif. Seringkali berprasangka negatif.
Ah, entahlah. Aku merasa terkadang aku
terbelenggu dengan pikiranku sendiri. Lalu, larut di dalamnya. Tanpa ku tahu.
Itu benar ataupun salah.